Dari mbah Wiki bilang begini, Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar adamateri. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.
jadi secara ringkas dapat saya simpulkan bahwa paham materilisme adalah pemikiran berdasarkan apa yang manusia bisa lihat, rasakan, dan juga bisa dicapai dengan beberapa usaha. Jadi bisa juga paham materilisme adalah orang yang berpandangan pada keduniawian, seperti harta, benda, dan juga kedudukan. Tentunya paham ini mengenyampingkan akan keberadaan yang ghaib. Seperti keberadaan Tuhan, hari akhi, dan sejenisnya yang berhubungan dengan akhirat.
Dilihat dari perilaku orang yang menganut paham materilisme, tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya kit semus dapat berpotensi membesarkan paham ini. Kita pastinya menginginkan kehidupan di dunia yang serba wah. Dimulai dari gaya hidup yang berlomba-lomba untuk tampil mencolok dan ingin dipandang. Wajar saja kita befikiran seperti itu, karena jika tidak maka kita akan tersisihkan. Zaman sekarang sudah jarang orang yang mau dekat dengan kita apa adanya. Semua orang memandang kita berdasarkan bibit, bobot, dan bebet-nya.
Tentu saja di zaman dulu juga demikian. Semua disesuaikan dengan keadaanya. Pada zaman purba, orang yang terkuat akan memimpin kelompok dan mendapatkan segalanya. Pada abad pertengahan juga demikian, orang yang memiliki harta dan memiliki tanah yang banyak maka ia akan memperoleh apa yang ia kehendaki sehingga ia bebas melakukan kegiatan yang semenamena. Tak jauh beda dengan masa lampau, pada saat ini yang kita sebut masa demokrasi, liberalisasi (atau apalah namanya) juga demikian. Orang yang diatas akan tetap diatas sebelum sesuatu kekuatan yang besar menggoyahkannya.
Daripada kita membicarakan hal yang luas, saya akan mempersempit pembahasan ini dengan keadaan yang pastinya saudara-saudara pernah alami. Begini, pernahkah saudara sekalian ditolak cintanya (masalah cinta diambil karena sangat mudah dan menarik untuk dibicarakan) dikarenakan pihak yang anda sukai itu menyebutkan, " emangnya punya apa berani suka sama saya? ". atau dari pihak orangtuanya bilang begini, " Kerja dimana, berapa gajinya perbulan, kemarin lulusan mana? ". Nah, dengan atau tanpa disadari oleh kita bahwa perkataan tersebut adalah menjerumus pada paham materilisme. Semua diukur berdasarkan kuantitas belaka. Padahal kita ini belum tentu orang yang berpangkat dan banyak uangnya memiliki hati yang jujur seperti kita (lumayan muji sendiri, daripada tidak ada yang memuji,,,hehe,,) dan loyal atau setia sampai mati (mati sih urusan individu sebenarnya, masa mati juga harus sama-sama?hehe,,,).
Nah, konsep yang harus kita bangun agar kita bisa membuat jiwa kita semakin kuat menghadapi serangan materilisme adalah dengan cara :
Tentu saja di zaman dulu juga demikian. Semua disesuaikan dengan keadaanya. Pada zaman purba, orang yang terkuat akan memimpin kelompok dan mendapatkan segalanya. Pada abad pertengahan juga demikian, orang yang memiliki harta dan memiliki tanah yang banyak maka ia akan memperoleh apa yang ia kehendaki sehingga ia bebas melakukan kegiatan yang semenamena. Tak jauh beda dengan masa lampau, pada saat ini yang kita sebut masa demokrasi, liberalisasi (atau apalah namanya) juga demikian. Orang yang diatas akan tetap diatas sebelum sesuatu kekuatan yang besar menggoyahkannya.
Daripada kita membicarakan hal yang luas, saya akan mempersempit pembahasan ini dengan keadaan yang pastinya saudara-saudara pernah alami. Begini, pernahkah saudara sekalian ditolak cintanya (masalah cinta diambil karena sangat mudah dan menarik untuk dibicarakan) dikarenakan pihak yang anda sukai itu menyebutkan, " emangnya punya apa berani suka sama saya? ". atau dari pihak orangtuanya bilang begini, " Kerja dimana, berapa gajinya perbulan, kemarin lulusan mana? ". Nah, dengan atau tanpa disadari oleh kita bahwa perkataan tersebut adalah menjerumus pada paham materilisme. Semua diukur berdasarkan kuantitas belaka. Padahal kita ini belum tentu orang yang berpangkat dan banyak uangnya memiliki hati yang jujur seperti kita (lumayan muji sendiri, daripada tidak ada yang memuji,,,hehe,,) dan loyal atau setia sampai mati (mati sih urusan individu sebenarnya, masa mati juga harus sama-sama?hehe,,,).
Nah, konsep yang harus kita bangun agar kita bisa membuat jiwa kita semakin kuat menghadapi serangan materilisme adalah dengan cara :
- Memahami konsep dasar paham Materilisme itu sendiri agar kida dapat mengetahui kekurangan paham ini.
- Mendekatkan diri pada Tuhan YME agar kita bisa diberikan kesabaran dan juga fikiran yang positif. Dengan fikiran positif, maka hidup ini akan terasa lebih ringan.
- Berfikir dan meyakini bahwa masih ada kehidupan lain sesudah di bumi ini.
- Melakukan hal yang positif dan membuat suatu prestasi agar orang yang dulunya menganggap remeh kita menjadi berfikir kembali atas perlakuan dan kata-kata yang telah mereka berikan kepada kita.
- Take it easy. Yah, namanya juga hidup, kalau tidak ada cobaan tidak akan seru.